Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Mengatasi Gangguan Kecemasan dengan menerapkan Gaya Hidup Stoic

12 komentar
Mengatasi Gangguan Kecemasan dengan menerapkan Gaya Hidup Stoic

Gangguan Kecemasan = Hal yang diciptakan sendiri untuk menambah masalah hidup

Mengatasi Gangguan Kecemasan dengan menerapkan Gaya Hidup Stoic| Pagi itu aku bangun dengan bermandikan keringat dingin, seperti biasa suami sudah bangun dan melakukan aktifitas bebersih rumah. Setelah mengecek smartphone aku langsung berlari mencari suami langsung kupeluk sambil bilang, "semalam aku mimpi buruk'. Dengan penuh kasih sayang, suami menenangkanku sambil memberikan air minum. 

Aku merasa hari ini akan berat, setelah melihat banyak informasi dari sosial media bahwa Amerika sedang inflasi parah sekitar 9,1% yang menjadi tragedi terparah setelah 40 tahun. Pantesan orderan jasa ilustrasi kami semakin menurun (target market kami adalah amerika serikat dan sekitarnya), beberapa pelanggan lama vacuum, tak ada proyek yang akan dikerjakan. 

Harga bensin naik, telur dan bahan pokok lainnya juga naik. Banyak yang bilang, untungnya Indonesia hanya mencapai 5% 'saja', tidak gila gilaan seperti di Sri lanka. Tapi, tetap saja hal itu menjadi ketakutanku. 

Hari hari terasa berat dilalui, overthinking dan lelah meskipun tidak melakukan apa apa (baca:rebahan sambil kepikiran). Menjelang malam aku nangis drama gitu kepelukan suami, lagi lagi suami menenangkanku. 

Mengatasi Gangguan Kecemasan dengan menerapkan Gaya Hidup Stoic

Sambil menenangkan, suami menyarankanku untuk membaca buku bertema Stoic lagi, FILOSOFI TERAS. Padahal aku sudah baca sebelumnya, tapi tetep saja susah dipraktekkan. 

Baru baca diawal, aku lumayan tersadarkan,
KENAPA GUE LEBAY BANGET DAH!

Kenapa harus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi alias tidak nyata, emang aku ini cenayang?. Hobi sekali menambahkan masalah yang tidak berarti, yang ternyata kuciptakan sendiri, berputar putar dikepalaku. 

Akhirnya aku selesaikan baca buku FILOSOFI TERAS dan buku buku penunjang lainnya dengan mantap, seperti kata Sisca Kohl "marikita coba~!!". NB: Ini adalah caraku pribadi, mungkin saja tiap orang memiliki cara yang berbeda beda.

1. Baca buku dan konten mengenai Stoic

Menurutku ini penting banget untuk memahami konsep hidup stoic, karena kalau cuma baca sekilas saja dan dari saran teman sepertinya kurang mantap. Sekalian ini menjadi terapi kalau memang sedang gabut maksimal, biar pikiran tetap fokus. Seperti buku Filosofi Teras yang lebih mudah dicerna, youtube bang Ferry  dll. Karena kalau kita belum baca dan mendalami isi, niat dari gaya hidup stoic malah nanti jadi salah arah.

Apa itu Stoic?

Stoicism, stoik, stoikism berasal dari bahasa Yunani yaitu "Stoikos" yang memiliki arti serambi/beranda. Oleh karena itu penulis Henry Manampiring menyebutnya Filosofi Teras. Filsafat ini dianut oleh mantan budak Yunani, Epictetus. Seneca, politisi era Kaisar Nero, dan Marcus Aurelius sang Kaisar. Jadi memang bisa diterapkan oleh manusia dikalangan apapun, dan masih eksis hingga sekarang. 

Kalo bisa aku simpulkan sih, Stoic itu hidup dengan 'lempeng', netral aja gitu. Hal yang negatif ataupun positif adalah interpretasi dari kita saja. Beberapa filsuf mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak dikejar. Fokus saja untuk mengurangi emosi negatif, mengendalikan stress yang dibuat sendiri, rasa takut dengan logika. 

Gini saja gampangnya, kita adalah manusia biasa. Bukan Scarlet Witch, bukan Ironman yang bisa membalikkan dunia dengan satu jentikan dan batu akik. Jadi jelas saja, kita tidak bisa mengendalikan banyak hal eksternal yang bukan kuasa kita, contohnya:

kelahiran, rejeki, jodoh, kesehatan, kesuksesan, dan kematian

ini semua diluar kuasa kita, karena sekali lagi kita adalah manusia biasa.

Sedangkan yang bisa kita kendalikan adalah:

  • perasaan gelisah, ketakutan, kecemasan bisa kita ubah dengan memahami situasi, logika, dan mengubahnya jadi netral
  • bangun dari tempat tidur dan bekerja, karena manusia diciptakan untuk bekerja sejak jaman Adam dan Hawa datang ke bumi
  • berolah raga, karena manusia diciptakan punya tangan dan kaki yang harus bergerak. Cacing dan ular saja tiap hari harus gerak untuk mendapatkan makanan
Nah, hanya sebagian itu yang bisa kutulis untuk lebih mendalam lagi bisa baca FILOSOFI TERAS.

2. Ingatlah kamu hanya manusia, bukan Ironman

Mengatasi Gangguan Kecemasan dengan menerapkan Gaya Hidup Stoic

Biasanya orang panik karena menganggap dirinya penting, istilahnya seolah olah dia adalah lakon besar dalam dunia ini. Berikut adalah isi dari pikirannya:
"waduh, kalau aku tidak pakai tas Hermes asli nanti dikira orang aku orangnya fake"

"aku tambah gemukan, gimana jika orang orang di arisan nanti ngatain aku gemuk?"

 "sedih banget, gajiku kecil gini gak ada yang mau nikah sama aku nantinya"

 Coba kalau kita ganti pikiran kita menjadi:

"aku bukan siapa siapa, aku manusia biasa yang hidup berkoloni dengan manusia lainnya, jelas saja ada banyak kepala pasti ada banyak pandangan tentang diriku. Dan, hal itu tidak bisa kukendalikan"

Apakah dengan memaksakan diri untuk membeli tas Hermes yang harganya setengah milyar lantas hidupku akan menjadi tambah bahagia? tambah populer sehingga semua orang akan mendewakan aku? lantas kalau semua orang menganggapku high class. Aku akan menjadi sejajar dengan Victoria Beckham? padahal uang setengah milyar itu aku harus ngutang dan sengsara. 

Lantas jika orang lain mengatakan aku ini gemuk, apakah mereka salah?. Kenapa aku harus marah dan menyalahkan diriku?. Itu adalah congor mereka sendiri, aku tidak bisa mengendalikannya. Lagi lagi, jangan berharap semua orang tumbuh dilingkungan yang sama dengan congor yang sama. Jadi kenapa harus marah?.

Jika gajiku kecil, memang itulah rejekiku sekarang ini. Hal itu lebih baik daripada aku menganggur dan menjadi beban orang tua. Hal yang bisa kukendalikan adalah bekerja dengan baik, jujur, dan meminang wanita yang kucintai. Jika memang dia tidak mau kepadaku, yang memang belum cocok saja. Masih ada milyaran wanita diluar sana yang bisa kupinang. 

...pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri. (Henry Manampiring, Filosofi Teras)
Filosofi teras Henry Manampiring

3. Filosofi Teras: Mengambil langkah S-T-A-R

Ada teknik atau langkah langkah dari buku Filosofi Teras yang aku ikuti, yaitu: 

STOP, THINK & ASSES, RESPOND

Aku mau kasih contoh yaitu salah satu dari masalahku, yaitu khawatir akan inflasi dunia, Indonesia, dan takut tidak bisa survive dari krisis ekonomi (*yang belum terjadi dalam hidupku). Mari kita jabarkan praktek dengan langkah S-T-A-R.

  • STOP (berhenti). Begitu ada rasa emosi yang mendalam, seperti kecemasan aku coba untuk berkata "STOP" atau "UDAH DEH!" dengan lantang. Teknik ini lumayan bikin badan dan pikiran jadi otomatis berhenti.
  • THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah menghentikan semua emosi yang ada, kucoba untuk memaksakan diri berpikir logis, dengan rasional. Menilai, apakah dengan merasa cemas dan takut sekarang ini efektif untuk hidupku?.  Apakah semua yang terjadi itu bisa kukendalikan? apakah semua pikiran yang aku ciptakan saat ini akan terjadi dimasa depan? ok! aku bukan pemilik batu akik Thanos, jadi masa depan tidak bisa kukendalikan. Padahal saat ini aku masih bisa bekerja dengan baik, ngonten, dan makan makanan enak. Jadi semua yang aku khawatirkan sekarang ini TIDAK NYATA.
  • RESPOND. Sesudah menggunakan nalar, logika, secara rasional dalam mengamati situasi barulah memikirkan respon apa yang harus kita lakukan. Sekali lagi, kita tidak bisa mengendalikan adanya inflasi dan krisis saat ini karena jelas, aku bukan salah satu dari kementrian keuangan luar negeri, bahkan mendekati Bu Sri Mulyani saja tidak. Jelas bukan kendaliku. 
  • Kesimpulan: jadi, yang bisa kulakukan saat ini adalah bekerja dengan tekun, berhemat dengan tidak membeli barang barang lucu di MINISO, belajar hal hal baru untuk membekali diri agar mendapatkan jenjang karier yang lebih baik dimasa depan.
Bersyukur sekali, berkat langkah langkah dari FILOSOFI TERAS aku menjadi lebih bersyukur dan tenang. Hidup disaat ini tanpa harus memikirkan hal diluar kendali, seperti penilaian orang, keputusan klien, dll.
Jangan biarkan peristiwa yang ada (didepanmu) menggoyahkan dirimu. Katakanlah (kepada peristiwa/kejadian itu),'Tunggu dulu; biarkan saya memeriksamu sungguh sungguh. Saya akan mengujimu dulu.'" ~Epictetus (Discourses)

Gaya hidup stoic ini bisa diterapkan dikehidupan sehari hari untuk siapapun, kalangan apapun. Di era yang serba viral, serba dadakan ini kurasa cocok sekali menerapkan gaya hidup ini. Lebih banyak merasa bersyukur, nrimo, dan fokus.

Semoga artikel ini Mengatasi Gangguan Kecemasan dengan menerapkan Gaya Hidup Stoic bermanfaat untuk kamu yang sedang menghadapi masalah hidup, depresi, stress, atau gangguan mental lainnya. Selain FILOSOFI TERAS, buku yang aku baca seperti The Power of Habit. Saran dan kritik bisa DM aku di: @agablackjack

sumber: Filosofi Teras, Henry Manampiring



Related Posts

12 komentar

  1. terima kasih mba..jadi tahu tentang gaya hidup stoic ini..selaras dg ajaran nrimo ing pandum dari budaya jawa sepertinya yaa..? dan utk terapi STAR nya juga insya Allah bermanfaat..

    BalasHapus
  2. makasih mbak artikelnya. praktek STAR saat galau datang kudu dicoba nih. memang kalau overthinking jadinya justru mikir yang aneh-aneh.

    BalasHapus
  3. Wah dapat ilmu baru ini. Seringkali timbul kecemasan akan sesuatu hal, padahal belum terjadi. Tulisan ini dapat memberi info cara mengatasi hal itu. Terima kasih sharingnya mbak.

    BalasHapus
  4. Ah dibikin artikel juga akhirnya, dulu aku baca di status Instagram ya, Aga? Hehee
    Tentang STOIC ini seperti memang banyak yang ngalami. Anakku aja udah membayangkan nanti kalo nikah gimana, misal nggak kerja. Langsung deh aku ajakin ngobrol tentang rejeki yang ada ketika menikah, punya anak, yang penting ikhtiar dan berdoa, sisanya pasrah pada takdir Yang Kuasa

    BalasHapus
  5. Aku kok malah salfok ke kasih sayang suami, yaa, hehe. Masya Allah, semoga berbahagia selalu buat Mbak Aga dan Mas Danang.

    BalasHapus
  6. Siruasi sekarang emang pemicu bgt untuk overthinking ya mbak. Kalo ga inget kita punya Allah mungkin udh stres dr kmr2. Hidup seadanya yg penting berkah ya mbak

    BalasHapus
  7. Situasi kaya zekarang ini emang pemicu banget buat kita jd overthinking ya mbak. Klo ga inget kita punya Allah udh stres berat dr kemarin. Emang hidup seadanya dan penuh syukur udah paling bener

    BalasHapus
  8. Tapi memang untuk mengatasi masalah itu butuh waktu ya mbak, nggak bisa instan. Mau gimana juga kayak udah jadi bagian hidup, nggak bisa ngejudge juga ya

    BalasHapus
  9. Mbaak ma syaa Allah pas banget, ada temenku barusan cerita tentang gangguan kecemasan, habis baca ini langsung kushare ke temennku mbak, terima kasiiih mbaaak

    BalasHapus
  10. Makasih mbaaaa aku jadi lega dan tenang nih, mau lahiran degdegan kan mari kita coba, di netralin dan pake logika ya siappp

    BalasHapus
  11. sebenarnya untuk gangguan kecemasan seperti itu bisa seberapa bahaya nya yaa ketika dibiarkan begitu saja?
    VISIT OUR WEBSITE : Tel U

    BalasHapus
  12. Kalau orang Jawa bilang semeleh gitu ya mbak. Memang kalau dah overthinking tuh segala sesuatu jadi terlihat menakutkan.. butuh proses untuk mengelolanya. Salah satunya pakai metode Stoic ini ya.

    BalasHapus

Posting Komentar