Wednesday, January 9, 2019

Masalah yang dihadapi Freelancer Desain Komunikasi Visual

Bekerja menjadi freelancer adalah pilihan. Ketika kamu nyaman memilih jalanmu sendiri untuk bekerja sendiri atau berwirausaha pasti banyak suka dan dukanya juga. Aku menekuni pekerjaan ini sejak kuliah semester 5 dulu. Karena awalnya pada jaman itu uang saku ku mepet hihi. Dan di waktu yang sama ada editor yang suka dengan karyaku, jadi deh icip icip kerja freelance illustrator. Akhirnya keterusan sampai sekarang.

Dalam artikel ini aku membahas beberapa masalah yang dihadapi freelancer terutama bagi freelancer di bidang DKV seperti ilustrator, desainer grafis, desainer konten, UI UX desainer, dll. Pernah beberapa tahun lalu aku baca bukunya pak Surianto Rustan yang berjudul BISNIS DESAIN terbitan 2015, isinya sangat bagus dan ada suatu bahasan tentang suka duka freelancer DKV. Buku ini sangat aku rekomendasikan kepada teman teman DKV yang ingin memulai bisnis di bidang desain atau jadi freelancer.

Nah... untuk lebih singkatnya akan aku jabarkan apa saja masalah yang akan kamu hadapi ketika menjadi freelancer DKV, beserta solusinya :


 Tidak bisa mengatur keuangan dengan baik
Bekerja sendiri memang lebih nyaman menurutku. Menjadi bos bagi diri sendiri, pendapatan mungkin lebih banyak daripada orang yang bekerja di kantor atau studio. Bekerja lebih fleksibel bisa dimana saja, dirumah tanpa harus pakai pakaian kantor, koloran dan tank-top an, dll. Tetapi, karena hal fleksibel tersebut kadang kita juga sesuka sukanya aja mengatur keuangan. Karena apa apa dikerjakan sendiri, jadi ada beberapa detail yang luput dari pengawasan. Yaitu keuangan!
Kalau di kantor atau studio biasanya kita sudah ada jaminan kesehatan/ BPJS, asuransi, kas dll. Sedangkan kadang sebagai freelancer kita tidak memperhatikan hal itu. Begitu dapat gaji, misal Rp.5.000.0000 gitu yah menurutmu itu udah gajimu sepenuhnya, di abis abisin buat jajan, makan, sewa kos atau rumah. Padahal ada beberapa kebutuhan lain yang harus disisihkan. Bayangin aja, tetiba kamu sakit, karena sakit kamu jadi gak bisa lanjut kerja, terus kehilangan klien deh. Aku dulu pernah ngalamin hal itu, akhirnya gelagepan ngorek ngorek tabungan buat biaya pengobatan. Mana klien juga udah pergi semua dan memutuskan kontrak, jadi rugi besar. Berdasarkan masalah seperti itu,
solusinya adalah :

Hitung semua kebutuhan primer dan sekundermu dalam 1 bulan. Apa saja pengeluaran tetap dan kebutuhan tetap yang realistis. Setelah itu perkirakan biaya dokter atau perawatan, kas jika kamu belum dapat klien lagi, dan tabungan lain lain. Jadi kamu harus punya anggaran untuk 'jaga-jaga'. Persiapkan juga asuransi kesehatan sejak dini biar gak kerepotan di masa depan. Mungkin bisa coba bikin catatan keuangan sendiri pakai bullets notes atau pakai aplikasi android (manajemen uang) sudah banyak ragamnya, tinggal di download. Dan selalu sadar apa yang dibeli agar lebih hemat.


Resiko kesehatan atau penyakit

Masalah ini sering aku temukan di teman teman freelancer. Yaitu masalah kesehatan, karena fleksibel tempat dan jam kerjanya, jadi mereka bekerja sesukanya. Ada beberapa orang yang cocok bekerja dari pagi sampai sore dan ada pula yang cocok bekerja dari malam hingga pagi. Hal ini pernah aku alami sendiri, pada jaman itu... beberapa tahun lalu, entah kenapa kalau kerja pagi rasanya males, nggak mood karena rame di kos. Akhirnya aku kerja mulai malam hari sekitar jam 8 malam sampai jam 3 atau jam 4 pagi. Karena tidur subuh, aku biasa bangun siang sekitar jam 11 siang. Setelah sekitar 2 bulan aku mengalami siklus kerja dan tidur yang beratusan begitu, alhasil badan rasanya gak karuan. Di siang hari rasanya jadi lemes, bahkan untuk aktivitas seperti jalan jalan ke mall atau ke kampus aja capeknya minta ampun.  Perubahan di fisik juga berubah, seperti mata panda, kulit lebih kasar, dan rambut rontok (gak tau ada hubungannya apa enggak), pokoknya tiba tiba jadi Zombie. Tidak hanya itu, masalah berat badan juga sering di alami freelancer. Ada yang jadi kurus banget, karena jarang makan karena mager di kos atau saking semangatnya kerja jadi lupa makan. Ada pula yang kelebihan berat badan, seperti akuhh....
Keasikan kerja didepan layar, sambil ngemil karena stress. Jadi jarang gerak juga, akhirnya berat badan naik dan beresiko obesitas. Kebiasaan kebiasaan buruk diatas membuat para freelancer beresiko terkena penyakit serius seperti jantung, paru paru bagi yang suka kerja malam, obesitas, maag, dsb.
Solusinya agar kita tetap sehat adalah :

Seorang dokter yang paling ahli pun akan menyarankan kamu untuk berolahraga rutin. Setidaknya 3-4 kali seminggu sudah bagus. Olahraganya yang kamu suka aja kayak jalan kaki dari rumah sampai ke rumah mantan atau pacar hihihi...Kalo aku suka yang lebih menghibur seperti zumba, dance, cover dance, aku targetin setidaknya tiap hari 20-30 menit.
Tidur teratur itu penting. Kita bukan makhluk nocturnal, badan kita sudah di setting sama Tuhan YME untuk aktif di pagi- sore hari dan tidur paling cukup 8 jam sehari. Diluar hal itu nanti badan dan organ kita error :(. Coba latihan tidur jam 10 malam dan bangun jam 5-6 pagi. Badan pasti seger.
Kalau kata kakek dan nenek saya, hidup kudu balance. Kalau sudah lama duduk bekerja di layar, yah kudu aktif pula di balik layar. Bergeraklah, setidaknya bersih bersih rumah atau pergi ke mall sekedar lihat cewek cewek cantik atau jejaka jejaka bening hihihi....







Suddenly Anti Social (Cave man syndrome)
Dari semester awal kuliah di jurusan Seni Rupa DKV UNNES aku lumayan gaul (sok gaul)  dan sok populer gitu. Aku bisa main sama siapa saja sama temen PSR atau kakak kelas DKV. Terus aku coba kerja freelancer, awalnya biasa saja. Tapi lama lama berkurang kapasitas mainnya, bersosialisasi dengan teman ataupun keluarga berkurang. Waktu jaman skripsian juga sudah tidak ada kuliah, aku sibuk kerja. Pernah hampir 1 minggu full, aku kerja didepan laptop mungkin sekitar 8-10 jam sehari. Keluar kamar pas mau mandi, atau pas mau ke warung sebelah cari makanan, sisa waktu cuma tidur. Setelah beberapa bulan kebiasaan itu berulang, aku jadi merasa aneh. Kondisi fisik dan psikis jadi aneh, mata jadi sensitif dengan cahaya apalagi kena sinar matahari, langsung pusing. Dan yang paling parah, pas keluar ketemu banyak orang di toko buku, jadi bingung. Pusing, ternyata aku gak hidup sendirian, banyak orang di bumi ini. Pas ketemu teman jadi kikuk, bingung mau ngomong apa. Dan jadi mager-an kalau mau kemana mana. Pas baca bukunya pak Surianto Rustan, ada bagian yang membahas hal ini. Ternyata masalah ini tidak hanya terjadi di aku saja, tapi freelancer diluar sana juga mengalaminya.
Solusinya adalah:

Membuat jadwal dan menyempatkan diri untuk bertemu atau main dengan teman, keluarga, mantan, pacarnya mantan. Jalan jalan, atau berwisata ke suatu tempat, barangkali bisa ketemu jodoh, atau jodohnya orang, atau inspirasi untuk bikin karya. Coba pas lagi keluar atau di Kafe gitu bicara atau menyapa orang asing barangkali bisa sekalian networking. Bersosialisasi itu perlu untuk masa depan, agar mudah bernegosiasi, networking atau rekomendasi pekerjaan, sharing juga membuat kita bahagia dan beban hidup jadi lebih ringan. Membuat kita mengerti mana yang buruk dan mana yang baik. Dan yang terpenting, membuat kita merasa tidak SENDIRI :)
Aku cuma menjabarkan sedikit soal masalah freelancer, sebetulnya masih banyak masalah lagi, namanya juga kerja. Dan beragam juga solusinya. Untuk kamu yang baru saja menggeluti dunia kerja di bidang DKV, di pikirkan lagi mana jenis pekerjaan yang cocok bagi dirimu. Apakah kerja di Studio, Perusahaan atau kerja sendiri jadi freelancer. Memang kudu dipersiapkan pula mentalnya agar lancar kedepannya. Untuk info lebih detail bisa deh baca buku- bukunya pak Surianto Rustan :)

Makasih sudah baca artikel dari saya, semoga bermanfaat :)

19 comments :

  1. Wah kalau aku dari jaman gadis hingga kini ibu-ibu gak bisa pola tidur kacau, mesti harus 8 jam atau minimal 6 atau 7 jam coz mending gak makan daripada gak tidur, aku suka jalan kaki keliling perumahan saat sabtu minggu atau jalan ke tempat wisata dan kulineran heuheu

    ReplyDelete
  2. Pertanyaannya, kalau jam kerja sampai dini hari, sukak "balas dendam" tidur ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, balas dendam tidur. Tapi pas bangun gak enak badan. Pusing, mata langsung sensitif cahaya

      Delete
  3. Emang kudu imbang ya jalanin kerjaan sama kebutuhan hidup yg lain seperti istirahat, makan, dolan dll :)

    ReplyDelete
  4. Apapun pekerjaan harus konsisten dan profesional ya mbak. Keren deh. Bisa gak sih kursus?

    ReplyDelete
  5. Aku sering ngalamin terutama nomor 2. Bisanya konsen ngetik setelah anak-anak tidur, padahal mereka tidur sekitar jam 9-10 wita. Jadinya jarang banget bs tidur barengin anak-anak. Keseringan ga bisa tidur sebelum jam 1 malam. Efeknya jadi bangun kesiangan, pagi dan siang badan lemes gampang capek 😢

    ReplyDelete
  6. Jaman jadi penulis novel, aku malam jarang bobo makan pun jarang. Seakan pantat nggak mau pindah dari kursi mba, hahahaha
    Akhirnya kena magh akut, dan nggak boleh lagi sama dokter untuk begadang. Ibu juga nggak mau liat aku pas beliau bangun tengah malam, liat aku masih di depan laptop. Sekarang setelah nikah, aku malah bobonya lebih cepet. Kamu masih muda jaga keehatan ya Aga, memang sih kita bos diri sendiri kalo freelancer ya. Sama. Mau dapet duit gede kudu gerak, kalau nggak ya nggaka da pemasukan.

    ReplyDelete
  7. Hohoho, balance is the key! Mau ngerjain apapun itu harus bisa bikin porsi yg tepat ya mba. Apalagi kesehatan, mahal harganyaa

    ReplyDelete
  8. Kalau gak pinter-pinter atur waktu memang mudah sakit dan biasanya berkaitan dengan sistem imun. Pernah ngerasain seperti ini waktu zaman kuliah, di kamar aja nyelesaikan skripsi sampai lupa waktu, makan aja di suapin temen. Akhirnya ngedrop, badan tau-tau kaku gak bisa gerak, terus dilarikan ke RS. Dari sini belajar kalau apa-apa harus berkualitas. Makan berkualitas, tidur berkualitas, kerja berkualitas, jadi kesehatan berkualitas juga.

    ReplyDelete
  9. Memang tantangan freelancer tu manage duit yg waktu dna nominalnya ga tetap dan jadwal tidur. Aku dlu juga suka melek malem klo udah nulis tapi sekarang punya bayi jadi harus makinnpinter ngatur waktu. Semangat ya Aga

    ReplyDelete
  10. Memang freelancer berasa nggak ada jadwal, dan malah sering kerjanya lebih "gila" dibanding yang kantoran. Sehat selalu yaaa

    ReplyDelete
  11. Aku sudah pernah mengalaminya, Mbak. Tidur jam 9 malam, bangun jam 2 dan baru tidur jam 9 malam lagi. Oke, kerjaan kelar semua, kemudian aku ambruk sebulan kena tifus. Hahaha. Menggelikan bagiku. Sekarang, kalau mau tidur mah tidur saja. Ntar kerjaan juga kelar sendiri. Woles kalo kata tetanggaku.

    ReplyDelete
  12. Wha... ini aku banget jaman nulis stripping sinetron Mbak. Keluar serasa ke dunia lain. Mata panda banget dan akhirnya ngak karu2an. Memang kerja malam )padahal moodnya malam) atau karena mau nggak mau dikerjain malam. Belum kerjaan rumah tangga yang bejibun. Btw salut padamu Mbak aga, aku penggemar ilustrasimu lho. Bahkan, aku sempat dulu bercita-cita jadi pelukis hehehe...

    ReplyDelete
  13. Mbak,, aku galfok ke ilustrasi nya. Bagus bagus.

    Btw, jadi freelencer itu emang kayaknya enak, tp jg harus tahu tanggung jawabnya. Aku jg msh belajar cara ngatur waktu nih utk ngerjain tugas2 freelancer. Aku msh belajar dg bikin perencanaan melalui bullet journal.
    Nice share mbak.

    ReplyDelete
  14. Aku salfok ke gambarnya, hehehe, kece banged

    ReplyDelete
  15. Ilustrasinya keren, kak.
    Kesannya jadi tampil beda gambar penyerta dengan blog lain.

    Aku juga pernah ngerasain gimana pola kerja jadi freealancer suatu bidang jasa. Kendala yang kutemui saat itu mengatur jam makan,tapi kusiati dengan bentar2 ngemil.

    ReplyDelete
  16. Aku sering tidur jam 1, dan jadi dengar ceramah dari paksuami. Karena paginya trus pusing gara-gara kurang tidur.

    ReplyDelete
  17. I am really enjoying reading your well written articles. It looks like you spend a lot of effort and time on your blog. I have bookmarked it and I am looking forward to reading new articles. Keep up the good work. loungu asia

    ReplyDelete

Designed by PrettyLikely