Friday, December 14, 2018

8 hal yang saya pelajari dari negara China

Breakfast menu from the one of restaurant in Shanghai

Hello! Dipenghujung 2018 ini aku teringat kenangan menarik setahun lalu ketika tinggal di Shanghai, China. Bulan Desember 2017 waktu itu adalah bulan yang sangat berat buat aku. Bukan karena apa apa, tapi karena tubuh ini yang belum bisa beradaptasi dengan peralihan cuaca dari Fall ke Winter di China. Padahal tidak ada yang menyiksa, tapi badan benar benar tersiksa. Cuaca yang tiba tiba dingin, angin yang berhembus kering. Kulit kering parah, sampe bibir jadi 'nglotok' kayak orang sakit. Tiap malam pakai AC yang panas, tapi malah susah napas. Kalau jalan ke sekolah, atau keluar dimanapun itu. Tiba tiba mata keluar air matanya kayak nangis gitu di jalan, sampe dilihatin orang. rambut tiba tiba kering kayak ijuk. Wah.....!! pokoknya gak kece abis deh.

Eitss!! mosok sih yang aku share, pengalaman gak enak ini saja?
Ada kok yang positif yaitu MASAKAN CHINA! Omaigad!! Ueeenaak e poll!! ( Nanti aku share makanan favoritku di China) Seperti cerita dibawah hihi...

Kurang lebih 6 bulan aku tinggal di Shanghai, ada banyak hal (Life lesson) yang aku dapatkan disana, yang belum tentu aku dapatkan dari kampus dan di lingkungan Indonesia. Berikut listnya:


  • Orang China itu fokus! 
    Karena disana aku numpang, hidup bareng sama orang China. Aku sedikit mengerti kebiasaan orang sana. Mereka itu fokus, tidak grusa grusu, apa yah... kerja ya kerja. Jarang yang kalo kerja atau kuliah bolos. Sebisa mungkin mereka untung, jadi bagi mereka bolos itu bikin boros. "Lah wong aku wes bayar, mosok aku bolos?" yah begitulah konsep mereka. "Kalau aku bolos kerja, nanti aku dapat laporan, nanti kalau di keluarin gimana?"
  • Tekun dan Bekerja Secara Profesional (dibidang apapun)
    Setiap pagi ketika aku mulai mengawali hari dengan jadwal blusukan ke daerah Shanghai. Aku ketemu tukang sapu yang sudah tua gitu, tapi nyapunya bisa mantep. Pakai baju lengkap, sarung tangan dan bersih. Bisa bener bener mantep nyapu, bersih tidak ada barang apapun di jalan. Setelah nyapu, tidak lantas pergi. Dia berdiri dulu disitu beberapa menit. Begitu ada daun jatuh, walaupun 1 biji doang, langsung di sapu. Hal itu sama juga dilakukan sama petugas kebersihan di Mall sana. Saking pedulinya mereka dengan kebersihan Mall. Pas musim hujan, pengunjung mall yang bawa payung basah, dikasih plastik oleh petugas kebersihan, biar payungnya yang basah gak netes netes di lantai Mall. Itu baru petugas kebersihan loh yah? belum yang lain. Pernah juga waktu di Metro, ada mas mas yang lagi latihan speech didepan penumpang lain. Sebelumnya dia permisi dulu, "maaf, saya lagi seleksi tenaga sales di perusahaan X. Saya Introvert, jadi saya mau latihan memberanikan diri speech didepan kalian". Wuah!! emejing banget dah, bisa niat banget kerjanya. Patut dicontoh
  • Melek Tekhnologi di segala usia ( Mau menerima pembaharuan)
    Sebelum berangkat ke China, penilaianku dengan negara ini masih berdasarkan informasi di Internet yang negatif, karena kabarnya China mem-blokir segala bentuk medsos dan jaringan produk luar negeri. Eh setelah sampai disana, aku TERKEJOET! Negara ini begitu canggih! Mereka bikin aplikasi sendiri, bikin jaringan internet dan search engine sendiri. Google = Baidu, Whatsapp = Wechat, GPS= Beidou, dll. Mereka bikin aplikasi sendiri, sistem operasi sendiri, dll. Dan tau gak sih, di China jarang banget lihat polisi sliwar sliwer. Polisi sudah digantikan dengan CCTV camera, hampir setiap pojokan dan di jalanan ada camera CCTV. Kalau parkir sembarangan, gak usah banyak cingcong, langsung poin lisensi SIM bakal berkurang dan kena denda secara otomatis di sistem mereka. transaksi pembayaranpun sudah canggih, pakai QR code scanning system. Tempelin aja HP di QR code toko, udah otomatis terbayar. Penggunanya dari segala usia dan kalangan. Sampe kakek kakek, jalan pake tongkat. Keliatan sepuh gitu, transaksi di Starbucks pakenya HP android trus scan QR code di kasir. Kan! keren banget, mereka pun yang sudah sepuh mampu menerima teknologi
  • Logis
    Beberapa minggu di Shanghai, aku masih rada kuper gitu. Masih emosional karena susah beradaptasi dengan cuaca dan kondisi masyarakat sana yang terkenal 'cuek'. Ayah host family ku memberi banyak informasi dengan kebiasaan masyarakat China. Mereka tidak begitu mempermasalahkan atau mempedulikan perasaan atau emosi. Karena bagi mereka itu hal yang tidak menguntungkan. Seperti contohnya suatu hari aku lupa bawa buku paket ke sekolah, akhirnya aku bilang ke guru ku kalo buku ku ketinggalan. Terus Bu Guru diem aja sambil senyum. Aku kira gak masalah, eh pas aku cek lagi di buku absen. Aku kena teguran dan dapat nilai C. Disitu aku sedih banget, baper, galau (yaelah). Tetapi yah bener, itulah pekerjaan guru ku disitu. Mengajar dan memberi laporan. Aku mikir, iya bener juga. Apa apa jangan pakai hati tapi pakai logika. Punya otak kok gak dipake sih gue :( heheheh. Sejak saat itu aku paham, bahwa gak semua hal itu terlalu dipikirkan, dirasakan, atau pake hati
  • Toleransi beragama dan berbudaya
    Banyak yang menganggap orang China itu rasis. Iya, mereka rasis, semakin rambutmu pirang, semakin tinggi pula respect mereka. Jadi bule bule eropa disana kalau kerja pasti bakal dapet gaji yang paling tinggi, sedangkan black people dapat gaji lebih rendah. Kalau masih di area Thailand, Malaysia, dan Indonesia gitu mereka masih respect. Tapi satu hal lagi, mereka tidak terlalu peduli dengan perbedaan di kehidupan ber masyarakat. Negara tersebut negara komunis dengan jumlah 99% penduduknya atheis loh! ingat Komunis dan Atheis. Tapi banyak tuh masjid dan mushola di Shanghai. Banyak orang arab dan China utara yang mayoritas muslim hidup damai disitu. Mau berhijab, burqa, dll, bebas. Malah makanan favorit yang murah dan enak di China itu restoran mie gitu, yang pemiliknya muslim. Hampir tidak ada isu perang agama disana. Komunis dan orang beragama hidup damai berdampingan disana
  • Peduli Kesehatan dan Olahraga
    Hampir setiap waktu aku jalan kaki keluar, mesti ketemu orang orang yang lagi jogging, senam, wushu, tai chi, dll. Dari segala usia dan kondisi tubuh (difabel) semuanya olahraga. Karena mungkin biaya rumah sakit disana super duper mahal. Dan mereka memang logis, "Jika aku sakit, aku tidak bisa menikmati hidup. Dan jika aku sakit, tabunganku yang aku kumpulkan akan percuma dengan membayar biaya rumah sakit. Jadi lebih baik aku jaga pola makan dan berolahraga". Sekumpulan lansia setiap pagi olahraga taichi, aku pernah ikut tapi baru join 10 menit aja sudah keringetan heboh, tekor :( padahal gerakannya selow. Ada pula, kakek difabel dan mungkin kena stroke juga di taman dekat apartemen dia senam sendirian pakai HP. Makanya aku jarang sekali bertemu orang China yang gendut disana. Nenek nenek usia 60 tahun bisa terlihat seperti usia 40 tahun, segar bugar dan sehat. Makan pun mereka juga terjadwal dan sangat dijaga. Jadi sarapan itu gak neko neko, paling telur rebus atau telo (gak jauh beda kayak di Indonesia). Mereka banyak makan sayur dan sedikit bumbu. Aku belajar bahwa, kesehatan itu penting
  • Pendidikan formal dan Ekstrakurikuler
    Karena peraturan pemerintah di China yang membatasi kelahiran anak pada suatu negara yaitu hanya ada 1 anak saja. Atau 2 jika sang ayah atau ibu adalah anak tunggal. Maka, setiap orang tua di China berusaha untuk mengoptimalkan pendidikan formal sejak dini untuk anak mereka, tidak hanya itu mereka juga support anak untuk mengikuti kegiatan  ekstrakurikuler, atletik, dan skill lain sesuai minat anak. Sama seperti di Indonesia, semua anak disana sekolah dari Senin hingga jumat. Biasanya anak anak China di hari sabtu mengikuti kegiatan lain seperti atletik di tempat les gitu kayak renang, wushu, karate, dll. Atau mengikuti kelas tari balet, zumba, IT, kreasi tas, mekanik, dll. Kegiatan tersebut tidak santai, mereka harus serius. Tidak seperti di Indonesia, yang mungkin belum terlalu peduli dengan kelas ekskul dan menganggapnya buang waktu atau tidak perlu. Di China, keahlian lain selain pendidikan formal sangat diutamakan. Dan benar saja, ketika aku di usia 26 sekian ini lumayan menyesal, kenapa dulu aku gak ikut ekskul olahraga renang, kalau ikut dan dibolehin nenek pasti sekarang badanku tidak menggendut dan sehat
  • Rajin Menabung, tidak gengsi
    Mungkin sifat inilah Negara China menjadi negara yang paling kaya di dunia, ketika perekonomian Amerika drop, China masih ada di puncak teratas. Sistem kehidupan mereka yang sangat terencana. Mereka menabung lebih dari 50% dari pendapatan mereka. Sebisa mungkin berhemat, daripada keteteran di kemudian hari. Mereka berhemat dalam segala hal. Seperti makan, mereka makan dengan hemat, memakan sayuran, telur, dan tahu. Baru ketika weekend bisa makan mewah diuar sekali. Transportasi, mungkin karena negara China didukung dengan transportasi yang murah dan teratur dari pemerintah, maka sangat dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Walaupun kaya raya seperti apapun, banyak yang memilih berjalan kaki dan pakai transportasi metro atau bus karena lebih hemat. Biaya parkir gedung di China hampir 50 ribu rupiah keatas per jamnya. Mereka tidak gengsi atau gimana, hanya untuk penampilan. Okelah, penampilan juga penting bagi mereka. Di jalan udah kayak Catwalk gitu, banyak yg pakai Hermes, adidas, Supreme ori gitu. Tapi untuk yang lain tetap mereka batasi pengeluarannya
Yah begitulah beberapa hal yang aku pelajari dari masyarakat China. Sebetulnya masih banyak hal lain lagi yang mau aku share, mungkin next aja. Setelah ini aku janji rajin nge Blog hehe. Biar tambah pinter dan gak kuper akunya. Kamu yang udah baca blog ini, terimakasih ya, dan semangat jalani hari. Jangan lupa berolahraga, menabung, dan bersyukur. 

Zai Jian!




5

Welcome to Etsy

Get 25% sale on Etsy.com/shop/Wondergaga
Hello! i just opened my online shop on Etsy. Special prizes for you during this Christmas season.

Please check my shop: 



Thanks :)
0

Sunday, November 11, 2018

Couple illustration

0

Freddy Mercury, Queen

“Don’t be so dramatic, darling”

0

Elaine: The Love Witch, 2017 movie



So i was watching The love witch. Maybe a little bit weird and unusual movie. The setting and movies quality its 60-70ish. I thoght it was recorded from 70s century, but its actually 2017 production. I love Elaine character here. Very seductive, mysterious and strong.


0

Friday, September 14, 2018

101 Shanghai: Hello! My name is Carissa Burgess

Add caption


Hi! My name is Carissa. I've been taking pictures for 12+ years (10 years in 4H) and love being behind the camera. Photography is one of my biggest passions (saving memories) as well as following Jesus, Homesteading, family and friends. I also enjoy writing (though not as much as my sister!). I was homeschooled all my school life, my Dad is a Realtor/ Broker and my Mom is a Soapmaker. I am the oldest of nine!
And, like most women, I love chocolate - mostly dark chocolate - but not too dark, more like 75% ;)

 Ini teman saya di Shanghai, mungkin teman pertama setelah 2 minggu tiba di Shanghai. Aku pertama kali ketemu di ruang lobby sekolah. Orangnya pendiem, langsung aja aku samperin. 

" Mbak, dari mana? main yuk?", dengan rasa PD aku nanya doi. Soalnya kalo aku tidak memberanikan diri buat kenalan sama orang asing, pasti susah banget punya temen disini.

"Eh iya, aku abis kelas ini. Boleh, kemana?". Dengan ekspresi rada ragu, dan kaget.
" Kemana kek, ke mall ato cari makan. Bosen nih gueh disini, mosok pulang sekolah langsung ke rumah. Pengen main tapi belum ada temen. Nanti aku traktir dan aku kasih tau arah pulang deh".

Akhirnya kita pergi jalan- jalan berdua. Orangnya memang pendiem gitu, tapi ramah dan jokes nya dapet :) sepertinya kita akan menjadi sahabat yang baik.

Our first selfie in autumn

Jajan gelato coklat

Jalan jalan di Dapuqiao, ada toko mainan lucu lucu
Walaupun dia orang Amerika aseli. Tapi dia enggak ambil pusing dengan kata kata bahasa inggris ku yang amburadul :( wkkwkwk LOL. Dia gak peduli grammarku kacau atau aneh. Kadang pakai bahasa isyarat.

Di Shanghai Carissa tinggal bersama keluarga pamannya. Pamannya menikah dengan wanita shanghai dan punya anak kecil kecil. Carissa berangkat dari Indiana ke Shanghai untuk membantu Pamannya mengasuh ponakan kecilnya. Memang basic- nya Carissa suka anak anak, dan adeknya sendiri ada 9, OMG!

Oranganya sopan, dan konservatif. Tidak seperti orang amerika yang aku bayangkan. Bisa pendiam dan santun gitu. Orangnya pun sederhana. Biasanya kita bicara soal keadaan keluarga, dan pengalaman selama kita tinggal di Shanghai.

  Informasi lebih banyak, bisa lihat di postinganku selanjutnya yah.

Makasih sudah baca :)
Love u all













0
Designed by PrettyLikely