Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Lulusan DKV Menjadi Freelancer VS Pekerja Kantoran

5 komentar

 

lulusan DKV

FREELANCER VS CORPORATE EMPLOYEE

Suatu hari ada ibu ibu yang bertanya kepadaku,

"anak saya bentar lagi lulus kuliah jurusan DKV, kira kira nanti bisa kerja jadi apa yah?"

"anak saya sukanya gambar dan desain, tapi belum tau mau kerja apa setelah lulus"

untuk itu aku menulis jawaban melalui blog ini agar orang tua dan mahasiswa calon sarjana setidaknya bisa tahu informasi dari pengalaman pribadiku sebagai freelancer di dunia kreatif yang sudah 7 tahun lebih. Pastinya tulisan ini, semua bersumber dari pengalaman pribadi yah, jadi jika ingin informasi mendalam bisa langsung tanya dengan yang profesional. Terimakasih, silahkan membaca👍

Sebelumnya flashback dulu, semasa kuliah semester tua aku pernah magang dibeberapa tempat, yang pertama ikut Om di Jawa Timur, sebagai asisten ilustrator di Radar Jember. Yang kedua, di studio ilustrasi Semarang. Terakhir, ikut Event Organizer HUT Bondowoso bersama dengan mahasiswa UNEJ. Aku bekerja lumayan enjoy disana karena team yang support sekali, tapi pekerjaan tersebut kulakukan dalam waktu singkat. Karena hanya sebagai kewajiban magang dari kampus.

Sisanya, aku bekerja sebagai freelancer dan pemilik studio sampai saat ini. Banyak sekali asam manis yang kucicipi selama berwirausaha, ada sedihnya, ada senangnya, ada bodohnya, dll. Memang suka banget sama tantangan, hidupku emang CADASSS!

Nah sebelumnya kita jabarin nih satu persatu antara freelancer dan kantoran, coba kita bahas yang kantoran dulu yah! cekidot👇

Pekerja Kantoran

Wah kamu jadi BUDAK CORPORATE nih sekarang?

Walau aku belum pernah ngalamin sendiri, tapi banyak kudengar dari konten TikTok atau sosial media lain, yang sangat mengejek orang orang yang bekerja di perusahaan. Entah dikatain budak corporate lah, bucin corporate, sesungguhnya itu merendahkan sekali.

Padahal jika kita berada di perusahaan yang tepat, bakal menjadi tempat bekerja yang asik dan potensial loh. Aku melihat sendiri secara nyata, karena keluargaku banyak yang bekerja di perusahaan bagus. Mereka mendapatkan jenjang karier, naik gaji, asuransi, dan jatah cuti yang banyak. Berikut adalah beberapa keuntungan bekerja di perusahaan atau studio:
  • Memiliki jenjang karier, jadi punya kesempatan untuk update skill dan promosi naik pangkat.
  • Gaji tetap dan konsisten, pastinya akan ada potongan jika kerja tidak optimal. Setidaknya gak overthinking apakah kedepannya akan dapat uang atau tidak karena gaji sudah ditetapkan.
  • Beberapa perusahaan juga bisa cover asuransi, nah fasilitas ini penting banget.
  • Ada uang makan, dan bonus lainnya.
  • Jatah cuti atau libur, kadang ada yang kasih trip gratis untuk karyawan.
  • Jadwal kerja teratur, misal kerja from 9 to 5 pulang sore bisa istirahat dirumah.
  • Fasilitas yang mumpuni, alat kerja dan stationery dari kantor, gak butuh modal sendiri.
Nah itu adalah beberapa keuntungan bekerja di suatu perusahaan/ studio, tapi aku gak mau bahas soal keuntungannya saja biar FAIR yah ada beberapa minusnya juga yaitu:
  • Jenjang karier akan sangat lambat, menyesuaikan keadaan perusahaan juga. Bisa saja sudah bekerja selama 10 tahun tetapi tidak naik pangkat.
  • Mengajukan kenaikan gaji juga tidak semudah itu, mengikuti protokol perusahaan dan bersaing dengan karyawan lainnya.
  • Akan ada persaingan antar karyawan, staff dan lingkungan kerja yang kurang baik. Ini adalah hal yang tidak bisa kita kontrol.
Jadi sebelum mempertimbangkan untuk bekerja di perusahaan harus banyak pertimbangan, nah, aku ada beberapa saran untuk bekerja di perusahaan:
  • Jika barusan lulus alias fresh graduate, saranku sih bekerja di perusahaan dulu agar tahu sistem kerja itu seperti apa. Sekalian belajar kedisiplan kerja, atur mood, memahami lingkungan kerja. Minimal 1 tahun lah stay di perusahaan tersebut.
  • Kenapa harus 1 tahun? 
    karena ada beberapa perusahaan besar yang mensyaratkan pelamar kerja untuk memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun.*Jika ingin memutuskan bekerja di perusahaan lain.
Freelancer

Enak ya, kerja FREELANCER gak punya bos, kerja bebas!

Nah ini sering kudengar dari teman teman dan saudara, dulu sih sempat kesel kalo ada yang bilang begitu. Tapi semakin tua, jadi memahami karena tidak semua orang harus tahu dan paham keadaan kita gak sih?

Tujuh tahun lebih pengalaman sebagai freelancer alias wirausaha dibidang kreatif, rasanya beuh... mantap! kalo dilihat secara visual, aku sudah tumbuh jenggot dan pakai jubah yang belepotan darah seperti pemenang SQUID GAME. *Canda squid game😆

Berikut beberapa keuntungan bekerja sebagai full time freelancer:
  • You are the Boss! 
    ya, ini klise banget tapi memang kamu yang akan handle semuanya, dari yang cari klien, cari bahan, dan mengatur keuangan.
  • Tidak perlu ngantor, bisa kerja dirumah, dikosan, atau dirumah mantan. *Eh.
  • Tidak perlu pake dresscode, koloran doang duduk pake gaya kodok juga bisa.
  • Tidak perlu mandi, karena tidak ada yang nyium.
  • Cocok untuk introvert.
  • Bisa menentukan harga sendiri.
  • Kerja kapan saja.
Nah, seperti biasa aku jelasin apa saja kekurangannya kalau kerja jadi freelancer:
  • Karena kamu Boss-nya, kamu harus bisa mengendalikan diri kamu sendiri.
    Jadi multitasking gitu, dan mendisiplinkan diri sendiri.
  • Sedangkan, mengendalikan diri sendiri itu sangat sulit. Harus ada motivasi yang banter👊
  • Tidak semua orang mampu multitasking. Kalaupun bisa, pasti ada yang tidak termanage dengan baik.
  • Wajib bisa manajemen waktu sendiri.
  • Dan banyak hal lagi.
Lalu kesimpulannya, lebih baik bekerja sebagai Pekerja Kantoran atau Freelancer nih? aku sih jawabannya: TERGANTUNG.
Sekali lagi menurutku sih kerja atau profesi itu cocok cocokan sih. Jika masih ragu lebih baik cek psikologi dulu kan ada tuh program psikologi profesi? bisa ambil test itu dulu sih. 
*Ah! lebay!.
Iya memang lebay, tapi ini bermanfaat sekali agar kita bisa tahu clue yang paling cocok untuk diri kita. Biar enggak terlanjur dan berakhir drama alias stress. Ye kan?

Dan perlu diketahui, semua profesi pasti ada resikonya. Entah itu resiko keuangan, mental, dan fisik. Contohnya aku, 

aku kerja freelance dari awal asal asalan, kerja tidak tahu waktu dari sore sampai dini hari alias ngalong. Tidak diimbangi dengan olahraga, mata dekat dengan laptop selama lebih dari 12 jam sehari. Makan tak terkendali. Akibatnya, beberapa tahun kemudian mataku minus silinder dan MENGGENDUT😆 dan masih banyak lagi. 

Jadi kesimpulannya adalah,
Jika kamu belum tahu mau bekerja kearah mana, bisa kerja di studio orang atau perusahaan terlebih dahulu. Nah, kalau dirasa tidak cocok atau sudah saatnya untuk mandiri, bisa kerja freelance. Pastikan tabungan sudah cukup minimal untuk bertahan selama 6 bulan.

Jika dirasa, dari awal kamu punya passion untuk kerja sendiri alias freelancer. Punya manajemen hidup yang bagus, PEDE, dan punya modal bisa cusss aja langsung freelancer.

Banyak buku buku yang bisa memandu kamu di dunia kerja bidang kreatif, salah satu bukunya Pak Surianto Rustan BISNIS DESAIN.

Semoga bisa menjawab keresahan kalian yah adik adik, dan Ibu ibu sekalian.
I love you so much 💋💓

Artikel bisnis no modal >>>>> Klik disini
Studio Official ku >>>>> Klik disini

Related Posts

5 komentar

  1. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri ya, tergantung bagaimana dia nyaman yang mana, apalagi belajar desain juga makin banyak pilihannya

    BalasHapus
  2. Betul. Enggak masalah kerja di perusahaan atau freelance, yang penting kita bisa optimal berkarya, ya

    BalasHapus
  3. DKV emang sekarang salah satu most wanted faculty si karena peluang kerjanya juga luas

    BalasHapus
  4. Terima kasih sharingnya mba..bisa jadi bahan pemikiran nih buat anak2 ljlusan DKV baru atau yg mau lulus.. Semoga sukses selalu ya..

    BalasHapus
  5. Lulusan DKB, buatku, jenis ilmu mahal. Tapi, referensi dari Aga juga mahal.
    Apapun latar keilmuan, mau kantoran atau freelance, sungguh tergantung pribadi kita sendiri.
    Keduanya tetap ada pilihan untuk menjadi yg terbaik.

    BalasHapus

Posting Komentar