Wednesday, January 8, 2020

Dilema Memilih Karyawan Baru

Dilema Memilih Karyawan Baru


Walaupun saya hanya pemilik usaha kecil, yang mungkin setara seperti pemilik toko kelontong atau toko laundry yang belum punya sertifikat CV atau PT, memilih karyawan baru berdasarkan CV dan portofolio harus sangat jeli. Dari beberapa email yang masuk hanya sekitar 10% saja yang benar benar bagus dan niat melamar kerja, sisanya seperti format broadcast di sosial media. Tidak ada nama saya, tidak ada nama perusahaan, bahkan tak jarang yang lupa mencantumkan mau melamar kerja di bidang apa. 

Iya, benar selama ini saya tidak pernah bekerja di suatu perusahaan secara tetap. Paling pengalaman dulu jaman kuliah yang magang di Radar Jember dan ikut EO om saya sendiri. Tetapi, belajar dari beberapa email lamaran yang masuk, saya jadi paham mana yang benar benar serius melamar kerja dan mana yang tidak. 

Sebetulnya hal ini terjadi berulang ulang, jadi karena saya sudah gemess sekali. Sepertinya saya harus share agar teman teman yang katanya resolusi 2020 dapat pekerjaan baru dan kariernya lancar bisa belajar juga dari sini.

Beberapa hari lalu ada anak lulusan SMK ternama di Semarang mendaftar ke studio saya. Waktu saya buka emailnya, sudah tidak terkejut lagi saya. Disitu dia tidak mencantumkan nama studio saya, mengirimkan file portofolio mentah yang langsung di upload di emailnya dengan size yang sangat besar. 


Instagram

Setelah saya balas di hari yang sama, saya mengundang dia untuk datang wawancara dan tes. Tidak ada balasan sama sekali. Baru di hari H, satu jam sebelum jadwal baru konfirmasi melalui whatsapp kalau tidak bisa hadir dengan alasan ingin menjenguk temannya yang sakit. Karena nomornya sudah saya blokir (karena kesal) jadi tidak bisa saya tampilkan screenshot nya, tetapi kira kira chat nya seperti ini:

Anggap saja namanya Bambang:
 
Bambang : " Halo pak/bu saya tidak bisa hadir wawancara karena harus jenguk teman yang sakit"
Saya    :  (cuma saya read saja)
Bambang : " Kalau besok gimana?"
Saya    : (cuma read saja, test the water)
Bambang : "Gimana, bisa atau tidak?"
Saya    : (mulai kesal, dikira jaman SMS apa? dikirim ulang karena takut jaringan lemot)
Bambang : "Gimana pak/bu? jadi wawancara tidak?"

Akhirnya dia sempat telpon saya 2 kali. Sengaja tidak saya angkat karena memang lagi kerja. Telpon yang ketiga, saya angkat. Dan nada bicaranya seperti kesal, dan seperti bicara dengan teman sendiri. 

"Gimana? besok bisa nggak mbak?"


Saya     : (karena diteror terus akhirnya saya balas) " Besok saya kabari lagi ya"

Besoknya...

Bambang: "Gimana nanti wawancara jam berapa?"
Saya      : "Mas Bambang, bisa datang jam satu siang ini yah"


Setelah berunding dengan manajer saya, sebetulnya kami tidak setuju setelah melihat etika bambang yang kurang sopan walau hanya di chat dan telpon saja. Tetapi saya berpikir positif, mungkin saja itu hanya komunikasinya dia saja yang tidak bagus. Jadi saya mencoba untuk memberi kesempatan kepada Bambang.

Jam 12:30 WIB Bambang sudah datang dengan pakaian rapih rambut kempling. Saya wawancara sebentar dan tes praktek. Tidak ada banyak pertanyaan juga, dengan sigap dia mulai mengerjakan tugas. Saya lihat hasil pekerjaannya lumayan bagus, tetapi kurang memahami instruksi yang saya maksud. Jadi saya mintanya A tapi dia mengerjakan B, iya betul idealis itu perlu. Tetapi harus ikuti arahan atasan agar tujuan tercapai dan sesuai proyeknya. 

Dan, karena saya optimis bisa mendidik Bambang. Saya beri kesempatan dia untuk melanjutkannya dirumah. Esoknya, Bambang menyelesaikan revisinya. Wahh! saya kaget karena tidak sesuai instruksi saya sama sekali. Saya kirimkan saran agar mengikuti instruksi melalui whatsapp. Bambang hanya membacanya saja dan tidak membalas hingga esok hari. 

Saya tanya melalui Whatsapp: "Bambang, bagaimana kelanjutannya?"
Bambang membalas            : " Maaf saya tidak berminat lagi, sedang mengerjakan pesanan yang lain"

Dalam hati saya, " baik aga, ini sudah biasa jangan mengumpat atau sakit hati. Semoga kedepannya tidak memberi harapan kepada orang yang dari awal memang tidak masuk kualifikasi pekerjaan".

Baik, dari peristiwa ini dan yang lalu saya berjanji untuk lebih banyak belajar lagi mengenai pemilihan karyawan baru. Harus lebih banyak belajar ilmu dari HR dan psikologi.


Siapa yang resolusi 2020 ingin segera dapat kerja dan karier yang bagus? ini saya ada beberapa tips dasar untuk bersaing mendapatkan pekerjaan dan dilirik oleh perusahaan. 
  1. Banyak perusahaan besar dan HRD perusahaan memperhatikan akun LinkedIn. Yang belum paham LinkedIn coba cari info di Google. Intinya LinkedIn itu seperti CV online dan tempat networking yang bisa terhubung langsung dengan orang orang dari perusahaan besar. Sosial medianya para pekerja gitu deh, jadi pastikan postingan dan profilnya lebih formal.
  2. Jangan cuma nunggu dan rebahan saja sampai diterima kerja, coba update skill atau pengetahuan dengan mengikutin pelatihan atau seminar. Hampir di setiap kota ada kok, bahkan yang gratis sekarang sudah banyak dan dapat sertifikat. Motivasi saya ikut workshop karena dapat jajan (eh... tapi semakin kesini, semakin dapat ilmu) hehe.
  3. Coba belajar komunikasi juga itu sangat penting secara verbal maupun bahasa tubuh. Tahukah cara berjabat tangan saja itu menjadi pertimbangan kamu bisa diterima atau tidak. Walaupun sekarang banyak perusahaan Startup yang santai, tetapi gaya komunikasi tetap diperhatikan loh. Apalagi gaya tulisan disaat kamu mengirimkan lamaran lewat email, banyak kok contoh contoh dan ketentuan surat lamaran yang baik di LinkedIn.
  4. Belajar bahasa asing itu perlu! minimal bahasa inggris lah, jika tidak bisa secara verbal bisa writing skill nya yang dimaksimalkan. Dulu pernah dapat nasihat dari orang tua di klenteng Sam poo kong Semarang. "Pelajarilah 5 bahasa, karena bahasa itu bisa membuka peluang sangat lebar", bahasa mandarin dan jepang juga bisa sebagai alternatif. Tahukah kamu, guru PAUD bahasa inggris (tidak lancar juga tidak masalah) di Shanghai digaji 30 juta rupiah loh! 
Jadi kira kira itu yang paling dasar sekali (menurut saya) jika ingin segera dapat pekerjaan yang sesuai keinginan. Lalu saya akan sharing, hal hal yang paling dasar dalam mengirim surat lamaran melalui email, yaitu: 
  • Lihat dulu perusahaannya seperti apa, siapa nama HRD, nama pemilik dan alamatnya dimana. Jadi nanti jika ingin mengirimkan email bisa lebih pede tulisnya atas nama siapa dengan jabatan apa. Jika memang tidak tahu siapa nama pemiliknya bisa ditulis: Pemilik Gagestudio atau HRD Gagestudio. Yah minimal seperti itu, tidak hanya HRD udah gitu saja, kesannya tidak personal soalnya.
  • Nama Subjek juga harus jelas, tulis juga jabatannya. Misal, Surat Lamaran: Admin - Bambang B. Budi.
  • Tulis Cover Letter singkat saja dengan gaya formal, tidak lebih dari 1 alinea.
  • Lampirkan 2 file saja (CV dan portofolio) dalam bentuk PDF dengan resolusi yang sudah di kompress, pastikan tidak lebih dari 15MB agar mudah dibuka melalui smartphone. Kalau lamaran dibidang kreatif bisa cantumkan link portfolio saja, lebih praktis.
  • Pastikan sudah mencantumkan nama akun sosial media kamu agar mempermudah pengecekan 
  • Jika memang diundang untuk wawancara, segera konfirmasi kehadiran. 
Yah begitulah tips saya, semoga resolusi 2020 kamu segera tercapai yah. Jika ada yang mau menambahkan bisa comment yah :) Terimakasih.



Cheers,
Aga



No comments :

Post a Comment

Designed by PrettyLikely