Friday, September 14, 2018

101 Shanghai: Saya Aga

Perfect Me
15 September 2017 aku memutuskan untuk tinggal sementara di Shanghai, China berbekal rasa nekat dan percaya diri yang super maksimal. Lebih nekat lagi, aku cuma bawa uang cash sejumlah 480 yuan doang, sekitar 1 juta rupiah. Tanpa sertifikat TOEFL dan asuransi kesehatan. Tapi, alat gambar dan dan baju pasti bawa dong.

Untuk mengikuti program Au Pair ini, aku cuma tau sedikit informasi saja. Intinya mendidik anak dan menjadi big sister bagi keluarga inang.

Sebelum ke Shanghai, aku punya beberapa ekspektasi. Pasti China itu seperti yang di siaran TV atau film laga China. Jadi rumah disana banyak komplek perumahan dengan dekorasi naga, shio, dan kuil kuil. Seperti yang beredar di media sosial, pasti China sangat tidak manusiawi masyarakatnya. Karena mayoritas disana atheis. Pasti polusi udaranya sangat parah, kotanya pasti kotor, dan bau.

Setelah tiba di Shanghai,
Mata saya terbuka. Tidak semua yang diceritakan orang orang dan tampilan di TV soal China itu benar. Banyak hal baru, ilmu, dan petualangan yang aku alami disini.

Semua akan di rangkum di beberapa postingan selanjutnya. Saya berkolaborasi dengan beberapa teman waktu tinggal di Shanghai yaitu Amy seorang penduduk asli Shanghai, Carissa yang berasal dari Amerika.
Semoga bermanfaat bagi kamu semua :).


 Semarang, 14 September 2018

Thanks,
Aga Rahmadani














No comments :

Post a Comment

Designed by PrettyLikely